Siapa yang bisa menolak sensasi sate maranggi? Makanan khas dari Purwakarta, Jawa Barat ini banyak dijajakan pedagang keliling, warung dan rumah makan.


Tastemade

Budayawan Sunda yang juga sebagai Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi bercerita tentang asal-muasal sate maranggi. Menurut dia, pada awalnya nama satai maranggi tercetus dari nama seorang penjual sate, bernama Mak Ranggi yang berjualan di daerah Cianting, Purwakarta.

‪”Awalnya nama sate maranggi itu berasal dari nama sang penjualnya, yaitu Mak Ranggi. Pada ratusan tahun lalu, Mak Ranggi sangat dikenal akan kelezatan satainya hingga menjadi buah bibir. Sehingga dengan tidak sengaja ketika menyebutkan satai pasti diakhiri dengan sebutan maranggi,” ungkap Dedi Mulyadi.‬


tribun jabar

Sate maranggi berbeda dari sate lain. Jika jenis satai lain langsung dibakar setelah setelah ditusuk, namun maranggi harus melalui beberapa tahapan lagi.

Yaitu melewati tahap perendaman dengan menggunakan aneka rempah yang bisa membutuhkan waktu hingga satu hari. Dan ketika akan dibakar, satai ini pun kembali diberi bumbu yang menjadi ramuan khusus.‬

Sumber: Liputan6
Facebook Comments